Berita  

Pertamina EP dan SKK Migas Resmi Mulai Fabrikasi Gas Dehydration Package Proyek Bambu Merah

CIKARANG – PT Pertamina EP bersama Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) secara resmi memulai tahap fabrikasi Gas Dehydration Package dalam rangka Proyek Pengembangan Lapangan Bambu Merah (BMH) yang terintegrasi dengan Stasiun Pengumpul Cilamaya Utara (SP CLU). Dimulainya tahap ini ditandai melalui First Cutting Ceremony yang digelar di Workshop Fabricator, Cikarang, Jawa Barat, sebagai tonggak penting pembangunan fasilitas produksi migas di wilayah Subang.

Kegiatan first cut of steel menandai dimulainya pekerjaan fabrikasi Dehydration Unit (DHU) dan gas scrubber, yang menjadi bagian integral dari peningkatan kapasitas pemrosesan gas Lapangan Bambu Merah.

Proyek ini dilaksanakan sesuai dengan ruang lingkup Optimasi Pengembangan Lapangan-Lapangan (OPLL) Bambu Merah–Cilamaya Selatan serta Authorization for Expenditure (AFE) yang telah disetujui oleh SKK Migas.

Pengembangan Lapangan Bambu Merah dirancang untuk mengoptimalkan pemanfaatan fasilitas eksisting di SP CLU melalui peningkatan fasilitas produksi. Setelah proyek rampung, produksi minyak akan dialirkan ke Booster Station (BS) Cilamaya, sementara gas akan diproses hingga memenuhi spesifikasi jual sebelum dikirim ke Stasiun Kompresor Gas (SKG) Cilamaya dan digabungkan dengan produksi gas dari lapangan lainnya.

Dalam rangka memastikan pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan, air terproduksi akan diinjeksikan kembali ke sumur-sumur injeksi melalui Water Injection Plant (WIP) di SP CLU.

Secara keseluruhan, pengembangan struktur Bambu Merah diproyeksikan menghasilkan produksi puncak sebesar 8 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD) gas serta 300 barel fluida per hari (BLPD) minyak atau setara 292,5 barel minyak per hari (BOPD) secara net.

Fasilitas yang dikembangkan meliputi gas scrubber berkapasitas 8 MMSCFD, Dehydration Unit (DHU) berkapasitas 9 MMSCFD, penambahan tiga unit gas compressor masing-masing berkapasitas 0,5 MMSCFD, serta berbagai fasilitas pendukung lainnya.

Manager Project Pertamina EP Zona 7, Ahmad Firdaus Fasa, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pemangku kepentingan yang telah mendukung pelaksanaan proyek. Ia menegaskan bahwa dimulainya tahap fabrikasi ini merupakan tonggak signifikan dalam upaya peningkatan kapasitas produksi migas nasional.

“Tahap fabrikasi ini merupakan tonggak penting bagi Proyek Bambu Merah. Kami berkomitmen melaksanakan seluruh pekerjaan dengan mengutamakan keselamatan, kualitas, serta kepatuhan terhadap regulasi. Dukungan dari SKK Migas, Pertamina EP Zona 7, Subang Field, dan para mitra kerja menjadi modal penting untuk mencapai target operasional yang telah ditetapkan,” ujarnya.

Sementara itu, Head of Communication, Relations & CID Pertamina EP Zona 7, Wazirul Luthfi, menambahkan bahwa proyek ini memiliki nilai strategis dalam mendukung ketahanan energi nasional.

“Pengembangan fasilitas produksi di Cilamaya Utara merupakan wujud komitmen Pertamina EP Zona 7 dalam mendukung pemenuhan kebutuhan energi nasional secara berkelanjutan. Kami memastikan setiap tahap pekerjaan berjalan sesuai aspek HSSE dan tata kelola yang baik, dengan koordinasi intensif bersama SKK Migas dan pemangku kepentingan lainnya,” katanya.

Pekerjaan fabrikasi dilaksanakan oleh mitra kerja PT Bahana Karya Mandiri dengan durasi 280 hari kalender yang dimulai pada 5 Desember 2025. Setelah fabrikasi selesai, paket DHU dijadwalkan dikirim ke SP CLU pada pertengahan September 2026, untuk selanjutnya memasuki tahap konstruksi dan commissioning selama dua bulan. Pertamina EP Zona 7 menargetkan fasilitas ini dapat beroperasi (startup/onstream) pada November 2026.

Sebagai informasi, PT Pertamina Hulu Energi (PHE) merupakan anak perusahaan PT Pertamina (Persero) yang berperan sebagai Subholding Upstream, mengelola kegiatan usaha hulu minyak dan gas bumi baik di dalam maupun luar negeri. Melalui Regional Jawa, PHE mengoordinasikan pengelolaan lapangan migas di wilayah Jawa bagian barat yang meliputi DKI Jakarta, Banten, Lampung, Bangka Belitung, dan Jawa Barat, dengan tetap berada di bawah pengawasan SKK Migas.

Regional Jawa terus berupaya meningkatkan produksi migas sesuai rencana kerja yang telah ditetapkan, dengan menerapkan prinsip Good Corporate Governance (GCG) serta aspek Health, Safety, Security, and Environment (HSSE), sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan dan berkontribusi terhadap kemandirian masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *