Indramayu, KlikOne – Fungsionaris Partai Buruh, Carkaya, melontarkan kritik tajam terhadap praktik feodalisme yang dinilai masih mengakar dalam sistem politik modern Indonesia. Dalam pernyataannya, ia menyebut feodalisme sebagai “kotoran kesaktian” yang menghambat terciptanya masyarakat yang benar-benar merdeka.
Menurut Carkaya, pola pikir feodal tidak hanya bertahan sebagai warisan budaya, tetapi juga menjelma dalam praktik kekuasaan saat ini. Ia menilai, feodalisme menjadi musuh utama nalar dan kemajuan karena mendorong cara berpikir irasional, patrimonial, serta menjauhkan kebijakan dari realitas kebutuhan rakyat.
“Lalu-lalang kata ‘kenyang’ tak akan membuat si lapar menjadi kenyang,” ujar Carkaya, menggambarkan kritiknya terhadap pemimpin yang lebih mengandalkan pencitraan, simbol kebangsawanan, dan retorika populis tanpa kebijakan konkret yang berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat.
Ia juga menyoroti fenomena kepatuhan buta dalam birokrasi pemerintahan. Menurutnya, budaya “asal bapak senang” menciptakan lingkungan yang tidak sehat, di mana bawahan enggan mengkritik atau mengambil inisiatif karena masih terjebak dalam pola patrimonialisme atau “budaya istana”.
“Memuja kebudayaan kuno yang penuh kepasifan di dalam kabinet hanya akan melanggengkan ketakutan dan menghambat inovasi,” tegasnya.
Dalam konteks kekinian, Carkaya mengungkapkan bahwa sejumlah studi akademis menunjukkan adanya kecenderungan penggunaan manipulasi simbolik dan mistisisme dalam politik modern. Ia menilai teknologi kini dimanfaatkan untuk menyebarkan narasi irasional demi kepentingan kekuasaan.
Lebih lanjut, Carkaya turut mengkritisi sejumlah kebijakan pemerintah. Ia menilai program MBG memiliki nilai positif dari sisi materi, namun lemah secara logika karena perhitungan anggarannya dianggap tidak realistis. Selain itu, target pertumbuhan ekonomi 8 persen serta proyek Ibu Kota Nusantara (IKN) disebutnya sebagai contoh kebijakan yang mengabaikan realitas di lapangan.
“Kacamata kabinet masih kusam. Kebijakan besar justru sering kali lebih memuaskan keinginan penguasa daripada menjawab kebutuhan riil rakyat,” katanya.
Sebagai penutup, Carkaya menyerukan perubahan arah pembangunan nasional. Ia menekankan pentingnya kembali pada kebutuhan dasar rakyat, seperti pertanian, industrialisasi berbasis rakyat, serta pemenuhan gizi anak tanpa ketergantungan utang.
“Berhentilah bermimpi tentang gedung pencakar langit dan angka pertumbuhan ajaib. Mulailah bertani, membangun pabrik rakyat, dan memberi makan anak-anak tanpa utang. Itulah satu-satunya logika kemerdekaan,” pungkasnya.
Carkaya menegaskan, selama cara berpikir dan praktik pemerintahan masih terjebak dalam “kotoran feodal”, maka cita-cita kemerdekaan yang sejati akan sulit terwujud.











