Indramayu, KlikOne – Kegiatan belajar mengajar di SDN Kendayakan 1, Desa Kendayakan, Kecamatan Terisi, Kabupaten Indramayu, sempat terganggu setelah puluhan siswa tidak masuk sekolah. Aksi mogok tersebut terjadi di tengah polemik pemindahan tiga guru dan pengunduran diri sejumlah guru honorer.
Meski aksi mogok disebut telah berakhir, aktivitas belajar mengajar di sekolah tersebut belum sepenuhnya kembali normal.
Sejumlah siswa dilaporkan masih belum masuk sekolah karena orang tua menilai ketersediaan guru belum memadai untuk menunjang kegiatan belajar di seluruh kelas.
Seorang warga yang enggan disebutkan namanya mengatakan, aksi mogok berlangsung setelah muncul persoalan yang berujung pada pemindahan tiga guru berstatus aparatur sipil negara (ASN). Ketiga guru tersebut masing-masing mengajar mata pelajaran agama, pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan (PJOK), serta menjadi wali kelas VI.
Menurut warga tersebut, persoalan bermula dari kesalahan redaksi dalam pencatatan administrasi tabungan siswa. Istilah yang digunakan dalam dokumen disebut-sebut menimbulkan kesalahpahaman hingga persoalan itu dilaporkan ke Dinas Pendidikan.
“Tabungan kan biasanya ada potongan. Nah, operator sama bendahara salah redaksi, pakainya tulisan pajak. Akhirnya ada yang melaporkan sampai ke dinas,” ujarnya.
Warga itu menjelaskan, persoalan tersebut sebelumnya telah dibicarakan dengan orang tua siswa. Ia menyebut pemotongan yang dimaksud merupakan bagian dari upah guru atas pekerjaan administrasi tabungan, bukan pajak sebagaimana tertulis dalam redaksi yang dipersoalkan.
Namun, setelah kejadian tersebut, tiga guru dipindahkan dari sekolah. Di saat bersamaan, sejumlah guru honorer juga mengundurkan diri. Warga menduga, keputusan sejumlah guru honorer untuk keluar turut dipengaruhi kondisi lingkungan kerja yang dinilai kurang nyaman.
Akibatnya, jumlah guru yang tersisa di sekolah disebut hanya tiga orang, masing-masing menangani kelas I, III, dan V. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran mengenai keberlangsungan pembelajaran bagi siswa dari enam tingkat kelas.
“Sekarang sudah tidak mogok seperti kemarin. Setelah ada Dinas Pendidikan, anak-anak mulai masuk lagi, tetapi belum penuh,” kata warga tersebut.
Ia menambahkan, meski terdapat guru pengganti atau guru yang membantu mengajar, pelaksanaan pembelajaran dinilai belum berjalan optimal. Guru yang tersisa harus bekerja lebih ekstra untuk memenuhi kebutuhan pengajaran di tengah keterbatasan tenaga pendidik.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Indramayu, Caridin, membenarkan adanya pemindahan tiga guru dari SDN Kendayakan 1. Ia menjelaskan, pemindahan tersebut merupakan bagian dari pembenahan dan penyegaran di lingkungan sekolah.
“Ada tiga guru yang dipindah karena ada pembenahan di SDN Kendayakan 1. Ini bentuk penyegaran,” ujar Caridin.
Terkait pengunduran diri sejumlah guru honorer, Caridin mengaku belum mengetahui secara pasti persoalan tersebut.
Ia menyebut pihaknya telah bertemu dengan komite sekolah untuk membahas kondisi yang terjadi.
Menurut Caridin, proses penyiapan guru pengganti sedang berjalan. Dinas Pendidikan menargetkan penyesuaian kebutuhan tenaga pendidik dapat diselesaikan dalam waktu maksimal satu minggu.
“Untuk penggantinya sedang diproses. Dalam waktu dekat kita sesuaikan, maksimal satu minggu selesai. Tuntutan warga yang penting di sini ada gantinya,” katanya.
Caridin juga menilai persoalan di SDN Kendayakan 1 bukan semata-mata berkaitan dengan tabungan siswa, melainkan komunikasi di lingkungan sekolah yang dinilai kurang berjalan dengan baik.
Atas kegaduhan yang terjadi, ia menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat.
“Saya secara pribadi dan atas nama lembaga memohon maaf atas kegaduhan di SDN Kendayakan 1,” ucapnya.
Polemik di SDN Kendayakan 1 kini menyisakan persoalan yang lebih mendasar, yakni bagaimana memastikan seluruh siswa kembali mendapatkan layanan pendidikan secara optimal.(Riharjo)











